Tentang Tua Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan
Bisakah kedewasaan seserorang diklaim oleh orang itu sendiri? Bolehkah seseorang berkoar bahwa saya sudah dewasa? Apakah anggapan dan klaim tersebut layak ditanggapi dan diapresiasi? Atau hanya pantas untuk ditertawakan?
Seorang karib dalam diskusi (agak) filosofis di medsos pernah berujar bahwa kedewasaan seseorang berkaitan erat dengan pola pikir, sikap dan tingkah laku sehari-hari. Tapi banya pertanyaan masih bergasi di kepala saya, pola pikir, sikap dan tingkah laku seperti apakah yang dikatagorikan sebagai 'dewasa'?
Dewasa sekarang ini hanya menjadi label dan cap-capan. Tanpa pemaknaan yang mendalam atas subtansinya. Beberapa orang berkoar bahwa dia talah mencapai kedewasaan ketika dia merokok. Beberapa yang lain merasa talah dewasa saat merasa menang dalam sebuah perkelahian. Itukah sejatinya yang diagung-agungkan sebagai kedewasaan? Atau malah jungkir baliknya.
Saya mencoba mencerna lagi kalam karib saya yang ternyata ada sedikit benarnya tadi. Benar kata dia jika ada kata-kata 'dewasalah sedikit' maka itu berkaitan dengan sikap. Akan saya lengkapi bahwa dewasa itu melakukan segala tingkah laku sesuai moral dan akal. Tahu kepentingan, sebab akibat dan berbagai syarat dan prasyarat untuk menyampirkan label dewasa tadi. Maka apakah orang yang hidupnya terlunta-lunta karena tak jelas dan harapan pantas disebut dewasa? Apakah berkelahi meskipun menang sesuai dengan moral, etika dan akal sehat? Mari renungkan seksama.
Seorang karib dalam diskusi (agak) filosofis di medsos pernah berujar bahwa kedewasaan seseorang berkaitan erat dengan pola pikir, sikap dan tingkah laku sehari-hari. Tapi banya pertanyaan masih bergasi di kepala saya, pola pikir, sikap dan tingkah laku seperti apakah yang dikatagorikan sebagai 'dewasa'?
Dewasa sekarang ini hanya menjadi label dan cap-capan. Tanpa pemaknaan yang mendalam atas subtansinya. Beberapa orang berkoar bahwa dia talah mencapai kedewasaan ketika dia merokok. Beberapa yang lain merasa talah dewasa saat merasa menang dalam sebuah perkelahian. Itukah sejatinya yang diagung-agungkan sebagai kedewasaan? Atau malah jungkir baliknya.
Saya mencoba mencerna lagi kalam karib saya yang ternyata ada sedikit benarnya tadi. Benar kata dia jika ada kata-kata 'dewasalah sedikit' maka itu berkaitan dengan sikap. Akan saya lengkapi bahwa dewasa itu melakukan segala tingkah laku sesuai moral dan akal. Tahu kepentingan, sebab akibat dan berbagai syarat dan prasyarat untuk menyampirkan label dewasa tadi. Maka apakah orang yang hidupnya terlunta-lunta karena tak jelas dan harapan pantas disebut dewasa? Apakah berkelahi meskipun menang sesuai dengan moral, etika dan akal sehat? Mari renungkan seksama.

Komentar
Posting Komentar