Menghidupkan Kembali Budaya Unggah-ungguh (2)


Dulu unggah-ungguh  diajarkan secara turun temurun dalam pendidikan anak usia dini. Masyarakat Jawa mengetahui bahwa usia dini adalah masa emas (golden age) di mana seorang anak masih bisa dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Unggah-ungguh  di sekolah di ajarkan dalam pelajaran Bahasa Jawa. Melalu materi Kromo Alus dan Inggil khususnya.
            Tetapi dewasa ini, agaknya pendidikan di sekolah sangatlah tidak memadai untuk menjadi media pembelajaran unggah-ungguh ini. Ini menjadi sangat riskan mengingat pendidikan di rumah, belum tentu sebaik pendidikan di sekolah. Apalagi bagi masyarakat Jawa modern yang peran orang tua sangat terasa kurang karena sibuk bekerja. Dalam ilmu sosiologi, fenotipe (lingkungan) memberikan andil paling besar dalam perkembangan anak (Roucek dan Warren, 1962: 3). Jika seorang anak di rumah malah bermain game, meniru budaya Barat yang mereka tonton langsung dari layar kaca, maka apa yang sekolah usahakan untuk bangun akan hancur berkeping-keping.
            Budaya unggah-ungguh Jawa ada pada masa paling krisisnya sekarang. Khususnya pada masyarakat Jawa modern. Mereka menganggap unggah-ungguh terlalu bertele-tele, tidak efisien, bahkan hanya membuang-buang waktu saja. Persepsi ini mereka dapatkan dari Barat yang memang terkenal individualis. Pengaruh dari budaya barat yang getol disebarkan melalui berbagai macam media (westernisasi), dan implikasinya benar-benar terasa akhir-akhir ini.
            Budaya unggah-ungguh harus tetap dilestarikan dalam sebuah gerakan massal. Pemuda harus jadi motor terdepan dalam pergerakan ini. Butuh kekuatan bersama untuk menangkal atau setidaknya meredam arus modernisasi yang kian lama kian menderas.
            Melihat pentingnya budaya ini dalam peranannya mendorong kesopanan beretika, maka sudah seharusnya budaya unggah-ungguh diasimilasikan dengan budaya-budaya lainnya di Indonesia. Bahkan rasa-rasanya, budaya ini harus dinasionalisasikan dan menjadi identitas bangsa ini. Tak harus dalam bahasa atau adat Jawa memang, tetapi setidaknya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bisa diserap dan disatupadukan dengan budaya lainnya. Semuanya harus dimulai dari sekarang, Dimulai dari pemuda yang harus menjadi garda terdepan bagi masa depan bangsa. Pemegang tongkat estafet kebudayaan di masa depan.
            Demi menasionalisasikan gerakan budaya ini, tentu butuh edukasi-edukasi yang intens digelar di masyarakat. Tokoh pemuda daerah (abang dan none di Jakarta misalnya) harus memainkan peran ini. Mereka ada bukan hanya sebagai ikon. Tetapi mereka ada dengan harapan budaya daerah, khususnya unggah-ungguh dapat terus lestari. Keberadaan mereka bisa memimpin pemuda-pemuda lainnya untuk menyosialisasikan budaya unggah-ungguh ini.
Pendidikan unggah-ungguh ini harus diedukasikan di sekolah utamanya. Sejak  usia yang masih dini (golden age), dalam usia dini siswa masih sangat mudah untuk dibentuk karakternya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghidupkan Kembali Budaya Unggah-ungguh (1)

Meredifinisikan Sebesar Keinsyafanmu, Sebesar Itu Pula Keuntunganmu

Tanah Air, Kumpulan Cerpen Kompas yang Paling Muktakhir